Berita Berita Bisnis dan UKM
Gula Semut Pangandaran meningkat Bersiap Tembus Ekspor

Gula Semut Pangandaran meningkat Bersiap Tembus Ekspor

Parigi, SwaraPangandaran.Com – Produk gula semut atau gula kelapa bubuk asal Kabupaten Pangandaran sedang disiapkan menjadi komoditas ekspor. Saat ini, proses peningkatan mutu dan kapasitas produksi produk ini tengah dilakukan di bawah pembinaan Bussiness Development Center (BDC) Kabupaten Pangandaran.
Ketua BDC Pangandaran Teddy Sonjaya menyampaikan, telah ada mitra yang meminta agar produksi gula semut Pangandaran bisa memenuhi permintaan dari pasar Jepang dan Eropa. Dalam waktu dekat, Teddy berharap permintaan tersebut bisa dipenuhi walaupun masih melalui pihak ke dua,kita masih perlu membuka akses sendiri kedepan.
“Mereka meminta minimal 1 ton (per bulan). Sebelumnya kami belum siap. Tapi sekarang produksi kami sudah 2 ton (per bulan),” kata Teddy di kantornya di Parigi, Kamis (21/10).
Teddy menjelaskan, gula semut merupakan produk alternatif gula kelapa. Jika sebelumnya gula kelapa tradisional dipsarkan dalam bentuk batangan, menurut dia, sekarang diubah menjadi bubuk.
Dengan bentuk baru, ditambah berbagai inovasi yang dilakukan,mulai cara produksi yang bersih dan sehat, kata Teddy, nilai jual produk menjadi bertambah dan pemasaran menjadi lebih luas. Gula semut, kata Teddy, dibutuhkan oleh industri restoran, hotel serta para perusahaan di bidang kuliner.
Teddy menjelaskan, mulanya para perajin ragu untuk beralih dari produksi gula batang ke gula semut. Namun setelah menyaksikan langsung bahwa produk ini mendatangkan manfaat lebih, kata Teddy, para perajin gula kelapa antusias dan beralih membuat gula sembut.
Teddy menyampaikan, BDC Kabupaten Pangandaran yang merupakan lembaga bentukan Kementeraian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, saat ini membina 95 kelompok perajin gula semut di Kabupaten Pangandaran.
Masing-masing kelompok, kata dia, beranggotakan 10-12 orang. Para perajin gula semut, menurut Teddy, berada di bebrapa desa di Kecamatan Pangandaran, di antaranya Sidomulyo, Pagergunung, Wonoharjo dan Purbahayu.
“Dalam program pendampingan gula semut ini, kami membantu meningkatkan mutu produk, mulai dari penghilangan bahan kimia, pembuatan tungku yang efisien, penyediaan teknoogi yg bersetandar nasional, juga membantu pemasaran,” ujar Teddy.
Menurut Teddy yang di damping Alfa Edison selaku Tenaga Ahli TA kapasitas gula merah dari tim BDC membantu para perajin di lapangan. Setiap kendala yang dihadapi, kata dia, dicarikan jalan keluarnya. Ia mencontohkan, jika ada perajin yang produknya kelebihan kadar air atau kurang halus, mereka menyediakan mesin pengolahan yang menjadi fasilitas bersama yang kita sipan di Simpul Uaha (SUPU).
Namun begitu, menurut Teddy, para perajin tidak diajarkan bergantung pada teknologi. Hal ini, kata dia, untuk memastikan manfaat yang ditumbulkan dirasakan banyak pihak.
Contoh lain, menurut dia, pihaknya tetap mempertahankan tradisi lama memakai tungku dengan kayu bakar namun sudah kita modipikasi ‘’Tungku hasil kajian salah satu unipersitas ‘’supaya hemat. Karena dengan begitu, menurut dia, banyak pihak yang mendapat manfaat.
Salah seorang perajin gula semut, Rebin (50), mengaku merasakan dampak perubahan ekonomi setelah memproduksi gula semut. Ia menjelaskan, jika sebelumnya gula batang hanya dijual Rp 8000 sd 10 ribu/kg, saat ini dengan gula semut bisa mencapai Rp 16 ribu/kg.
Hanya saja, ia mengakui masih harus menyesuaikan dengan pola kerja yang baru. Dalam produksi gula semut, Rebin menyampaikan, dirinya harus memanjat pohon kelapa dua kali sehari untuk mengambil nira.
Hal itu dilakukan, kata dia, karena tidak menggunakan bahan kimia supaya tidak cepat asam atau basi. Sebelumnya, ketika memproduksi gula batang, menurut Rebin, ia cukup sekali saja memanjat dalam sehari. “Ya, tapi untungnya (gula semut) memang lebih besar alhamdulillah,” ujar Rebin.
Editor: Admin





Berita Berita Bisnis dan UKM Lainnya