Berita Berita Bisnis dan UKM
Gula Semut, dari Pangandaran Berharap tembus Eropa Secara Mandiri

Gula Semut, dari Pangandaran Berharap tembus Eropa Secara Mandiri

DIKANTONGINYA sertifikat produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) pada tahun lalu, menjadi pijakan awal bagi produk gula semut asal Kecamatan/Kabupaten Pangandaran memperluas pemasaran. Kini, butiran gula yang dihasilkan para petani dan perajin di sana, bahkan sudah bisa menembus pasar Jepang dan Eropa.

Segelas air seduhan gula semut, menjadi suguhan sekaligus contoh produk yang ditunjukkan Manajer Business Development Center (BDC) Kabupaten Pangandaran, An An Ramhdani di kantornya, Jumat, 24 Februari 2017.

Rasanya khas, tak jau berbeda dengan manis gula merah, tapi lebih lembut. Deretan produk gula semut berbagai kemasan juga terpajang pada salah satu sisi ruang tamu tempat pengolahan gula semut di Desa Wonoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran itu. Berbincang ringan, Ramhdani memaparkan secara singkat proses melejitnya si gula semut Pangandaran.

Sebenarnya sejak lama banyak warga Kabupaten Pangandaran memproduksi gula kelapa. Namun produknya berupa gula merah cetak. Proses pembuatannya pun alakadarnya, berdasarkan teknik turun temurun warisan keluarga. Gula merah tersebut lebih banyak dijual pada pabrik-pabrik untuk menjadi bahan baku kecap. Padahal, potensi pasar gula semut terbuka amat lebar.

Harganya pun lebih tinggi. Termasuk untuk pasar bahan makanan dan minuman di luar negeri. Di sisi lain, konversi proses pembuatan dari gula merah cetak menjadi gula semut juga relatif mudah dilakukan, meski bukan berarti tanpa tantangan.

Dari sinilah kemudian, terhitung awal 2016 program BDC resmi dijalankan di Pangandaran. Hanya 15 kota/kabupaten di seluruh Indonesia yang diberi program tersebut oleh pemerintah pusat.

Perombakan dimulai meski harus perlahan. Tak cuma produk yang berubah dari cetak menjadi serbuk. Lebih dari itu, pembenahan proses produksi dari hulu sampai hilir dilakukan. Dari petani
sampai perajin pembuat gula. Dapur-dapur produksi di rumah-rumah warga tak boleh kumuh. Bahan-bahan pendukung, termasuk bahan pencegah fermentasi, tak lagi mengandung kimia. Semua kembali pada bahan alami dari tumbuhan-tumbuhan organik.

Kadar air juga tak boleh lebih dari 2%. Itu pula yang menyebabkan produk ini bisa tahan sampai 2 tahun. Deretan pembenahan ini yang membuat produk gula semut asal Pangandaran diganjar sertifikasi PIRT, hanya beberapa bulan setelah program BDC dilangsungkan. Dengan sertifikat itu, pasar mulai terbuka lebar. Salah satunya, bisa menembus toko ritel modern.

“Ritel juga kan ingin produk yang mereka jual terjamin. Dengan sertifikat itu kami tak perlu lagi menjelaskan bahwa produk ini sehat, alami, bebas kimia, atau lainya,” ujar Ramhdani.

Seiring meluasnya pasar dan meningkatnya keuntungan, makin banyak pula perajin gula yang bergabung dalam produksi gula semut. Dari awalnya hanya 54 orang, kini menembus 140 orang di Kecamatan Pangandaran. Kapasitas produksi pun sudah mencapai 8-10 ton per bulan. Saat ini, dari kapasitas produksi itu, rata-rata 3 ton di antaranya diperuntukkan bagi pasar Jepang dan Eropa, meski proses penjualannya masih melalui perantara eksportir gula di Purwokerto, Jawa Tengah.

Oleh karena itu pula, BDC mulai berpikir untuk mendapatkan sertifikasi yang lebih tinggi untuk produk gula semut Pangandaran. Apakah itu SNI (Standar Nasional Indonesia), HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) untuk merek dagang, bahkan sertifikasi organik internasional. Dengan sertifikasi organik internasional yang penilaiannya sangat detail dan bisa menghabiskan waktu sampai 1,5 tahun itu, proses ekspor bahkan bisa dilakukan secara mandiri dari Pangandaran.

“Pasti ada pemikiran untuk tidak numpang (ekspor) lagi, walaupun tentu prosesnya panjang. Lagipula sertifikasi seperti itu juga kan kebutuhan, untuk menghasilkan kepercayaan pembeli,” ujar Ramhdani.

Memperoleh sertifikasi produk maupun merek, jelas tidak mudah. Hal ini diakui Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu Koperasi UMKM dan Perdagangan Kabupaten Pangandaran, Tedi Garnida. Apalagi, kata dia, untuk sertifikasi yang dikeluarkan oleh lembaga di level tinggi, seperti pemerintah pusat bahkan lembaga internasional. Selain standar yang ketat, akses juga bisa menjadi masalah tambahan.

“Tapi di sinilah peran pemerintah. Misal untuk SNI, kan bisa difasilitasi oleh pemerintah provinsi untuk menghubungkan ke sana, membantu prosesnya. Gula semut menjadi produk unggulan Pangandaran yang sudah bisa menembus pasar internasional selain ikan olahan perusahaan bu Susi (Pudjiastuti),” ucap Teddi Ketua Komite BDC***Pikiran Rakyat





Berita Berita Bisnis dan UKM Lainnya
BDC Kota Bandung Ajak Kerja Sama Pemasaran Produk dengan BDC Kab.Pangandaran
BDC Kota Bandung Ajak Kerja Sama Pemasaran Produk dengan BDC Kab.Pangandaran
Jum'at, 30 Desember 2016 00:23 WIB
Dalam kesempatan tersebut Iwan Muhamd Ridwan,Ketua DPRD Kab Pangandaran berharap capaian yang sekarang di dapat oleh Bussines Development Centre Kab Pangandaran bisa membawa nilai yang positif untuk Perkembangan ekonomi Usaha kecil di Pangandaran khususnya penciptaan peluang Usaha Baru
Gula Semut Pangandaran meningkat Bersiap Tembus Ekspor
Gula Semut Pangandaran meningkat Bersiap Tembus Ekspor
Sabtu, 10 Desember 2016 00:08 WIB
Swarapangandaran, dan ulasan media lain,Gula dengan bentuk baru, ditambah berbagai inovasi yang dilakukan,mulai cara produksi yang bersih dan sehat, kata Teddy, nilai jual produk menjadi bertambah dan pemasaran menjadi lebih luas. Gula semut, kata Teddy, dibutuhkan oleh industri restoran, hotel serta para perusahaan di bidang kuliner
BDC PANGANDARAN JADIKAN BEBERAPA PRODUK MENJADI PRODUK UNGGULAN
BDC PANGANDARAN JADIKAN BEBERAPA PRODUK MENJADI PRODUK UNGGULAN
Rabu, 09 November 2016 12:42 WIB
Senada, Wakil Bupati Pangandaran Adang Hadari juga sepakat bahwa gula kelapa dan ikan asin berpotensi menjadi produk unggulan Kabupaten Pangandaran. “Produksi gula di Pangandaran cukup banyaknamun masih di produksi seperti gula pada umumnya,kita akan lakukan pengembangan supaya bernilai jual baik,begitu pun Ikan asin dan alinnya
Tingkatkan Investasi di Jabar telah Membuka Lapangan Kerja dan Turunkan Kemiskinan
Tingkatkan Investasi di Jabar telah Membuka Lapangan Kerja dan Turunkan Kemiskinan
Rabu, 14 September 2016 12:56 WIB
Dalam acara Pembukaan Forum Komunikasi Pelaku Usaha se-Jawa Barat yang berlangsung di Bandung, Rabu (31/8), Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, posisi Jawa Barat sebagai daerah tujuan utama investasi harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. Menurut Deddy, saat ini di Jawa Barat, semakin tinggi tingkat investasi maka kesempatan kerja baru akan semakin terbuka. Dengan itu penduduk yang tadinya masuk dalam kategori miskin karena tidak berpenghasilan tetap bisa mendapatkan pekerjaan dan berpenghasilan tetap, sehingga ke depan mereka dapat memiliki daya beli yang lebih baik. Tujuan dari pembangunan yang ada saat ini untuk mengentaskan kemiskinan dan menghadirkan kesejahteraan rakyat yang lebih merata.