Berita Berita BDC Pangandaran
BDC Pangandaran Gelar Workshop Pengelolaan Gula Kepala

BDC Pangandaran Gelar Workshop Pengelolaan Gula Kepala

Gula kelapa (Falm Sugar) atau lebih dikenal dengan gula merah atau gula jawa mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, khususnya untuk masyarakat jawa, gula kelapa banyak dimanfaatkan untuk berbagai makanan dan minuman sehari-hari.

Pemanfaatan gula kelapa sebagai salah satu bahan baku pembuatan makanan ternyata tidak hanya di tingkat rumah tangga, namun gula kelapa juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri besar seperti pabrik kecap dan insdustri dodol serta jenang bahkan untuk komoditi ekspor.

Dalam Sambutan eksposenya yang digelar hari sabtu, 22 juni 2016 di desa Purbahayu H Teddy Sonjaya Ketua Komite Business Development Centre BDC Pangandaran di dampingi tenaga ahli khusus gula Kristal Alfa Edison dan Ketua Koperrasi Nira Satria Banyumas dan manager Pengelola BDC Pangandaran Bapak An An mengatakan, “Pengrajin gula kelapa merupakan industri rumah tangga yang cukup menarik untuk di kembangkan ketersediaan air emas (nira) yang melimpah bisa di ambil tiap hari juga mempunyai nilai jual cukup baik serta pasar yang cukup luas dan bagus, mudah mudahan kita bisa mengembangkan produksi gula yang sudah terkenal Di Indonesia dan menjadi produk unggulan di Kabupaten Pangandaran.

BDC di Sidomulyo Pangandaran

"Produksi gula rumahan yang tersebar di beberapa Kecamatan. Parigi, Cigugur, Langkap Lancar, Cimerak dan Pangandaran khususnya Desa Sidomulyo, sebagian besar warga Desa di Kecamatan tersebut merupakan pengrajin gula kelapa yang begitu potensi, bahkan kerajinan pembuatan gula jawa ini sudah dilakoni hingga turun temurun oleh warganya ", demikian ujarnya

Hampir sebagian besar yang beredar berbahan dasar gula kelapa, karena aroma serta rasa yang khas, sangat cocok untuk menambah citarasa pada makanan, rasa karamel dan pasta yang ada di gula kelapa memang tidak bisa digantikan dengan jenis gula lain seperti gula tebu. 

Selain pemanfaatan gula kelapa sebagai gula cetak, saat ini gula kelapa juga dimanfaatkan dalam bentuk serbuk atau lebih dikenal dengan nama gula semut atau gula Kristal tapi kita bikin yang organik tanpa bahan kimia.

Dinamakan gula semut ini karena bentuknya yang menyerupai dengan sarang semut yang ada di tanah. Gula semut juga memiliki beberapa kelebihan dibanding gula cetak pada umumnya, yakni dapat tahan lama disimpan dalam jangka waktu hingga dua tahun tanpa mengalami perubahan warna dan rasa, jika di bungkus dalam tempat yang rapat, ini karena kadar air yang terdapat pada gula semut hanya berkisar 2-3 persen. Dalam pembuatannya pun tidak berbeda dengan cara membuat gula cetak, yakni melalui proses pengambilan air emas (nira) yang dilakukan para penderes kelapa.

"Kami akan memberikan pendampingan pembuatan gula kristal ini sampai berhasil dan petani gula mendapatkan manfaat lebih dari selisih harga yang di dapat ",  ujar Alfa Edison.

"Bayangkan perkilogram nya selisih Rp.3000 sampai dengan Rp. 6000, sementara petani perhari mampu memproduksi 10 sd 20 kg coba di kalikan,seharusnya pendeeres itu kaya lihat koprasi Nira Satria mereka sudah bisa kirim ke Amerika, Eropa dan Jepang bahkan kekurangan 100 ton per bulan,mudah mudahan potensi pangandaran yang begitu besar bisa mendongkrak petani gula kelapa di pangandaran”ujarnya
.
"Biasanya kita, karena kita sudah mempunyai sertifikasi dari Internasional Control Union untuk mengontrol kualitas dari gula semut tersebut. Selain itu Koprasi ini juga sudah punya 3 sertifikat untuk pemasaran ke Amerika, Jepang dan Eropa. Semua sertifikat itu sesuai dengan standart negara masing-masing," kata Zaenal Abidin, Koordinator Internal Control System (ICS) Koprasi Nira Satria.

Dalam sebulan setidaknya Koprasi nira Setria dapat memenuhi pasar gula semut sebanyak 70 ton. Dengan asumsi 60 ton digunakan untuk pasar ekspor dan 10 ton digunakan untuk pasar lokal. "Untuk lokal kita kirim ke daerah-daerah di Indonesia," ujarnya.

Dia mengungkapkan, bukan hanya gula semut organik yang diekspor, namun gula semut organik terus mengalami perkebangan terutama mengenai rasa, saat ini koperasi berencana mengembangkan sekitar 38 varian rasa dari gula semut yang sudah tersertifikasi. Biasanya permintaan gula semut yang mempunyai rasa tertentu seperti rasa jahe, kunyit, vanila tersebut lebih banyak diekspor ke Jepang.

"Ada sekitar 38 varian rasa yang sudah tersertifikasi, tapi yang sudah terealisasi baru 5 varian rasa dan 3 varian rasa di antaranya sudah diekspor," ungkapnya.





Berita Berita BDC Pangandaran Lainnya
BDC Pangandaran Ikuti Seminar Peluang Pasar Gula Semut dan Asap Cair
BDC Pangandaran Ikuti Seminar Peluang Pasar Gula Semut dan Asap Cair
Selasa, 24 Mei 2016 20:35 WIB
​BDC Pangandaran dalam salah satu programnya adalah mengembangkan produk gula merah menjadi gula kristal/gula semut. para peserta seminar datang dari hampir dari seluruh daerah di indonesia. dimana mereka berlatar belakang pengusah murni, peneliti, pemerintahan, dan juga kelembagaan.
BDC Gelar Diskusi Tentang Optimasi Produk Unggulan
BDC Gelar Diskusi Tentang Optimasi Produk Unggulan
Jum'at, 06 Mei 2016 19:31 WIB
Business Development Centre (BDC) Kabupaten Pangandaran terus melakukan kegiatan, salah satunya adalah kegiatan diskusi ringan untuk mendiskusikan berbagai hal, beberapa waktu yang lalu BDC juga melakukan kegiatan yang sama dengan topik diskusi seputar optimasi produk unggulan daerah.
Ketua DPRD Tutup Pelatihan Pengelolaan Business Development Centre
Ketua DPRD Tutup Pelatihan Pengelolaan Business Development Centre
Sabtu, 27 Februari 2016 05:51 WIB
Setelah seluruh rangkaian acara pelantikan serta pelatihan Pengelolaan Business Development Centre Kabupaten Pangandaran, hari ini (28/02) Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Iwan M Ridwan secara resmi menutup acara yang diselenggarakan di Hotel Sun Inn Pangandaran ini.
​BDC Kabupaten Pangandaran Kembangkan Produk UMKM
​BDC Kabupaten Pangandaran Kembangkan Produk UMKM
Sabtu, 27 Februari 2016 05:46 WIB
Business Development Center (BDC) Provinsi Jawa Barat menggelar pelatihan bagi pelak UMKM di lima Kabupaten/Kota di Jawa Barat, salah satunya di BDC Kabupaten Pangandaran. Pelatihan tersebut bertujuan supaya menambah nilai jual produk hasil UMKM dapat meningkat.